Jumat, 04 Maret 2011

KOLEKSI


B. Dapur : PANDOWO CINARITO

Pamor : WIJI TIMUN

Warongko : BRANGGAH TIMOHO

Tangguh : MATARAM – JOGJA




KOLEKSI

A. Dapur : KEBO KANTHONG/KEBO THEKI

Pamor : BERAS WUTAH

Warongko : BRANGGAH MATARAM

Tangguh : MATARAM – JOGJA




Sabtu, 02 Mei 2009


Budaya Asli Indonesia 2

Hiasan sinarasah seperti yang dilakukan di Persia kuno, tergolong lebih sederhana dibanding dengan kinatah. Motif sinarasah selain untuk penghias dan penambah keindahan, sering pula dipakai motif rajah, yaitu semacam gambaran yang dianggap mempunyai arti gaib. Misalnya rajah kala cakra, raja Suleman, dsb.


Ditinjau dari cara pembuatannya, keris dapat dibagi tiga golongan. Yaitu keris Ageman, yang mementingkan keindahan bentuk lahiriah (eksoteri) dari keris itu. Golongan kedua adalah keris Tayuhan, yang lebih mementingkan tuah dan kekuatan gaib (esoteri) keris itu. Dan golongan ketiga adalah Pusaka, yang tetap mementingkan keduanya.


Ditinjau dari bentuk dan kelengkapan bagian-bagiannya, keris terbagi menjadi sekitar 250 dapur keris. Bentuk bilahnya, ada dua macam yaitu yang lurus dan yang luk, yaitu bilahnya berkelok-kelok bergelombang. Jumlah luk, mulai dari satu sampai 13. Namun ada pula yang lebih dari 13. Keris yang lebih 13 jumlah luknya, tergolong tidak normal (bukan tidak baik), dan biasa disebut keris Kalawija. Sedang hiasan pamor pada bilahnya lebih dari 150 ragam pamor.


Keris yang dibuat dalam lingkungan kraton, umunya diberi gelar : Kiai, Kangjeng Kiai dan Kangjeng Kiai Ageng. Gelar dan nama keris itu tercatat dan tersimpan dalam arsip kraton. Sedang keris milik kraton, umumnya disimpan dalam suatu ruang khusus yang diberi nama Gedong Pusaka atau ruang pusaka.

Keris-keris yang terkenal dan disebut-sebut dalam legenda atau cerita rakyat, yang paling terkenal adalah Keris Empu Gandring pada zaman kerajaan Singasari. Keris itu konon dibuat oleh Empu Gandring, atas pesanan Ken Arok untuk membunuh Awuku Tunggul Ametung. Keris terkenal lainnya, keris Kangjeng Kiai Sengkelat, pusaka kerajaan Majapahit yang konon pernah dicuri oleh Adipati Blambangan. Ada lagi keris Kyahi Setan Kober yang dipakai oleh Arya Jipang sewaktu berperang melawan Danang Sutawijaya, menjelang berdirinya kerajaan Pajang.

Selasa, 21 April 2009


Budaya Asli Indonesia 1

Keris adalah budaya asli Indonesia. Walaupun nenek moyang bangsa Indonesia umumnya beragama Hindu dan Budha, tidak pernah ditemukan bukti bahwa budaya keris berasal dari India atau negara lain. Jika pada candi-candi di pulau Jawa ditemui gambar timbul (relief) yang menggambarkan adanya senjata berbentuk keris, maka pada candi-candi di India atau negara lain hal itu tak pernah ada.
Bahkan senjata yang berpamor, tidak pernah ada dalam sejarah budaya bangsa India. Bentuk senjata yang serupa dengan keris pun tidak pernah ada di negara itu.
Beberapa buku tulisan orang Barat menyebutkan bahwa di Persia (kini Iran) dulu juga pernah ada budaya senjata berpamor yang serupa dengan keris Indonesia. Beberapa jenis senjata kuno buatan Iran memang dihias dengan semacam lukisan emas pada permukaan bilahnya. Teknik hiasan gambar pada bilah itu dilakukan dengan cara membuat alur goresan, sehingga bilahnya luka, dan dalam alur goresan itu disisipkan kepingan tipis logam emas. Jadi teknik yang dipakai adalah inlay, yang menurut istilah Jawa disebut sinarasah. Tetapi sinarasah ini tidak tergolong pamor yang sebenarnya. Sebab pamor adalah hiasan pada permukaan bilah yang terjadi karena terbentuknya lapisan-lapisan dari jenis logam yang berbeda, yaitu besi dan titanium. Besinya kehitaman, titaniumnya keperakan. Sedang senjata kuno Persia (Parsi) sama sekali bukan logam yang berlapis, melainkan terbuat dari baja melulu.
Di Indonesia, keris yang baik umumnya selain berpamor juga dihias lagi dengan emas, perak, intan berlian dan batu mulia lainnya. Hiasan ini dibuat sebagai penghargaan si pemilik terhadap kerisnya. Atau dapat pula sebagai anugerah dari raja atas jasa pemilik keris itu. Hiasan pada bilah keris yang mempunyai nilai paling tinggi adalah bila keris itu diberi kinatah. Permukaan bilah keris dipahat atau diukir sehingga membentuk gambar timbul (relief) dan kemudian dilapis dengan emas. Terkadang di sana sini masih ditambah dengan hiasan intan berlian. Jika kinatah itu menutup satu pertiga bilah atau lebih, disebut kinatah kamarugan. Jenis motif kinatah banyak ragamnya. Yang paling terkenal adalah kinatah gajah singa. .... bersambung ........
Bukan Alat Pembunuh

Walaupun tergolong jenis senjata tikam, keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Keris lebih bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik. Karenanya keris juga dianggap memiliki kekuatan gaib. Bagi yang percaya, keris dapat menambah keberanian seseorang. Keris dapat menghindarkan serangan wabah penyakit dan hama tanaman. Keris dapat menyingkirkan gangguan makhluk halus. Keris dapat membantu memudahkan orang mencari rezeki. Pendek kata, keris dapat dimanfaatkan tuahnya, sehingga memberikan bantuan keselamatan bagi pemilik dan orang di sekitarnya. Memang ada juga keris-keris yang benar-benar digunakan untuk membunuh, umpamanya keris yang dipakai oleh algojo kraton guna melaksanakan hukuman bagi terpidana mati. Namun kegunaan sebagai alat pembunuh ini pun sifatnya seremonial dan khusus.
Keris adalah benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir dan pahat, seni bentuk, serta seni perlambang. Pembuatannya selalu disertai dengan doa-doa tertentu, mantera dan upacara khusus. Doa pertama seorang empu ketika akan memulai membuat keris adalah memohon pada Yang Maha Kuasa, agar keris buatannya jika selesai kelak tidak akan mecelakakan pemiliknya maupun orang lain. Doa-doa itu juga diikuti dengan tapabrata, antara lain tidak tidur, tidak makan, tidak menyentuh lawan jenis pada saat-saat tertentu.
Bahan baku pembuatan keris adalah besi, baja dan bahan pamor. Bahan pamor ini ada dua macam. Pertama, batu meteroit atau batu bintang yang mengandung unsur titanium. Bahan pamor lainnya adalah nikel. Besi dan pamor ditempa berulang kali, berlapis-lapis, paling sedikit 64 lapisan. Umumnya sekitar 360 lapisan dan yang paling banyak 4264 lapisan. Baru setelah itu, untuk mendapatkan ketajaman yang baik, disisipkan lapisan baja tipis di tengah bilah. Segala benda yang berlapis, walaupun tipis, akan selalu lebih kuat dari benda aslinya. Teori itu sudah dikenal nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lampau. Bandingkan dengan kayu lapis (plywood) dan kawat baja pilin yang kita kenal pada dunia moderen sekarang ini.
Pilihan akan batu meteroit yang mengandung unsur titanium, juga merupakan penemuan yang mengagumkan dari nenek moyang kita. Karena titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibanding dengan logam lainnya. Unsur itu keras, kuat, ringan dan tahan karat. Dalam peradaban moderen titanium dimanfaatkan untuk lapisan pelindung pesawat antariksa, roket dan peluru kendali antar benua.

Selasa, 14 April 2009


INDUKSI ILMU

Seseorang yang memiliki ilmu tinggi, dapat menularkan ilmunya pada orang lain. Ia juga bisa menularkan (induksi) daya dari ilmu itu pada suatu benda. Kekuatan ilmu yang ditularkan itu pada umumnya, dapat bertahan sampai beberapa minggu, beberapa bulan dan bahkan ada yang bertahun-tahun.
Kemampuan seperti ini, sampai sekarang masih dimiliki oleh orang-orang tertentu di Indonesia. Pada zaman perang kemerdekaan, orang-orang yang berkemampuan seperti itu cukup banyak jasanya. Mereka secara langsung ikut membakar semangat para pejuang. Caranya, antara lain adalah dengan “mengisi” sepotong bambu kuning dengan daya tertentu. Pejuang yang maju ke medan tempur membawa potongan bambu kuning yang telah diisi itu akan berlipat ganda semangatnya, karena ia yakin dirinya akan selamat dalam pertempuran itu.
Kemampuan mengisi sesuatu daya pada sebuah benda ini pun sering dilakukan terhadap sebilah keris. Keris-keris yang diisi dengan cara seperti ini umumnya bukan keris buatan empu, melainkan buatan pandai besi atau pandai keris. Itulah sebabnya, keris yang tuahnya berasal dari isian atau induksi, biasanya tak begitu indah buatannya. Karena pembuat keris semacam itu bukan empu, melainkan pandai keris atau pandai besi biasa. Bahkan, seringkali keris semacam itu bentuknya tidak mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Pakem Keris.

Note :
· Pakem Keris : buku atau catatan standar tentang berbagai segi mengenai keris.
· Induksi : penularan, terkena pengaruh, meniru sifat atau kemampuan benda lain.

Doa pada saat penempaan pertama
Salam ngalikum salam
Niatingsun dadi Pengulu
Saka kersaning Allah.
Jodone wesi bumi lawan pamor akasa

Ket raket, nglairake daya suci
Daya rahayu saka karsa lan panguwasaning Allah
La illaha Ilallah.

Minggu, 29 Maret 2009

Keris & Tuah




Jin dan Makhluk Halus



Isi atau tuah keris lainnya, ada pula yang berasal dari kekuatan jin atau mahkluk halus lainnya. Tentang hal ini dapat diterangkan sebagai berikut.



Nenek moyang bangsa Indonesia percaya bahwa di alam dunia ini selain manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan adal lagi jenis penghuni alam lainnya. Penghuni alam ini disebut mahkluk halus, lelembut, badan alus atau jin.



Terhadap makhluk halus ini, nenek moyang bangsa Indonesia pada umumnya bersikap toleran, menghormati keberadaannya dan selalu berusaha untuk tidak saling mengganggu. Bahkan pada hal-hal yang khusus, makhluk halus yang tak terlihat ini diajak bekerjasama atau dimintai bantuannya. Mereka percaya bahwa jika manusia berbuat baik pada makhluk halus ini, mereka pun mau membantu manusia, bila diperlukan. Dalam rangka memelihara hubungan baik dengan mahkluk halus itulah, berbagai sesaji disediakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.



Seperti halnya manusia, menurut konsep nenek moyang kita makhluk halus itu pun mempunyai tempat tinggal tertentu. sesaji untuk makhluk halus, biasanya diletakkan di dekat tempat yang diperkirakan dijadikan tempat tinggal makhluk halus. Sesaji juga diselenggarakan, bilamana sesorang menginginkan agar satu atau dua makhluk halus mau berdiam pada suatu tempat. Demikian pula dalam kaitan dengan isi sebilah keris atau senjata tradisonal lainnya.




Agar keris atau tombak atau senjata pusaka lainnya menjadi lebij ampuh, sebagian nenek moyang kita menyediakan berbagai sesaji. mereka mengharap agar dengan sesaji itu, ada makhluk halus yang mau tinggal di keris atau tombaknya. Dengan adanya makhluk halus yang mendiami kerisnya, mereka berpendapat kerisnya menjadi lebih sakti, lebih ampuh. Apalagi bilamana ia yakin bahwa makhluk halus yang mendiami kerisnya adalah makhluk halus yang sakti dan berkekuatan hebat.

Kamis, 26 Maret 2009

KERIS JAWA


Nikel Sebagai Pengganti Titanium

Karena bahan pamor dari batu pamor atau batu bintang tidak gampang diperoleh, orang lalu mencari bahan penggantinya. Yang banyak digunakan sebagai pengganti batu pamor meteorit adalah logam nikel. Logam pengganti untuk bahan pamor ini mempunyai beberapa persamaan dengan titanium, antara lain warnanya yang lebih putih dibanding dengan warna besi. Nikel juga terhindar dari pengaruh warangan, sehingga pamor keris atau tosan aji lainnya dapat cemerlang kontras bila diwarangi.

Namun yang tak dapat disamai oleh nikel adalah keunggulan titanium yang tahan panas, kekerasannya tinggi dan tak gampang termakan karat.

Bagi pecinta keris yang kurang teliti, akan sulit membedakan pamor nikel dengan pamor meteorit yang mengandung titanium. Namun bagi yang peka dan teliti, mudah mengetahuinya dengan penglihatan serta perabaan saja. Ketajaman permukaan pamor meteorit lebih terasa dibanding dengan pamor nikel.

Tuah Keris

Tentang apa sebenarnya yang dinamakan tuah itu, sudah beberapa kali diperbincangkan di antara para pecinta keris. Kesepakatan tentang hal itu belum ada. Namun teori yang mulai banyak dianut orang adalah, bahwa isi keris yang baik adalah berupa kekuatan yang berasal dari berkah Tuhan. Pendapat ini adalah hasil dari beberapa diskusi mengenai isi keris yang diselenggarakan oleh Pusat Keris Jakarta.
Berkah yang terkandung dalam keris itu dianugerahkan Tuhan karena doa dan permohonan sang Empu selama pembuatan keris itu. Mantera yang selalu diucapkan Empu, sesungguhnya adalah susunan sederet doa yang telah dibentuk menjadi semacam syair. Sedangkan yang disebut doa, sama dengan permohonan.
Itulah sebabnya mengapa sebagian masyarakat bangsa Indonesia dulu, selalu memberi sesaji kepada keris dan tosan aji lainnya. Mereka berpendapat, jika sesaji itu lupa diberikan, maka makhluk halus penunggu keris itu akan marah atau pergi. Jika pergi, mungkin tak akan ada pengaruh buruk pada pemilik keris. Tetapi kalau makhluk halus itu sampai marah, mungkin dapat mendatangkan musibah.
Dengan mengetahui bagaimana bunyi doa seorang Empu dalam memohon berkah Tuhan bagi keris buatannya, tidak sukar bagi pecinta keris untuk memahami bahwa tuah sebilah keris yang baik adalah berkah atau berkat anugerah Tuhan.

Rabu, 18 Maret 2009

Keris Indonesia




Keris sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia saat ini sudah semakin dilupakan oleh orang-orang Indonesia, sehingga pembuat keris termasuk warangka nya (tempat/wadah) sudah semakin langka saja.




Saat ini yang banyak membuat keris adalah pengrajin bukan empu (=pembuat bilah keris) dan pembuat warangka nya. Pengrajin membuat keris hanya untuk hiasan semata dengan bahan dasar pembuatan yang ala kadarnya.


Namun lain bagi pembuat keris dan warangka untuk Tosan Aji, yang dipercaya mempunyai daya magis, roh/jiwa atau aurora sendiri dan membawa pengaruh bagi pemiliknya.




Keris sebagai tosan aji dibuat dari bahan-bahan pilihan, misalnya batu meteor, baja kuno, dll, sedangkan untuk warangkanya dibuat dari kayu cendana, gading gajah, gigi gajah, dll.


karena bahan dasarnya saja sudah pilihan itulah yang menimbulkan kekuatan tersendiri.




Saat ini sudah semakin langka orang-orang yang membuat keris sebagai tosan aji, padahal ini warisan budaya asli Indonesia yang telah mendapat pengakuan dari dunia internasional.


Apakah Kita rela ini punah?


Apakah kita biarkan ini menjadi benda bersejarah?

Jika Anda berminat ikut melestarikan dengan memiliki dan merawat keris......
saya siap membantu, hubungi saya....banyak koleksi bisa anda miliki....

Sabtu, 14 Maret 2009

Tunjung

Here I Am